SMP Negeri 26 Surabaya berada di kawasan industri di bagian barat Surabaya. Sekolah ini bahkan dikenal dengan sebutan “school in factory forest” atau sekolah di kawasan ‘hutan’ pabrik. Berada di kawasan pabrik, tentunya identik dengan sumber pencemaran udara dari cerobong asapnya. Kondisi ini membuat SMP Negeri 26 Surabaya, sekolah saya, perlu terus melakukan pembenahan lingkungan hidup. Bahwa sekolah ini harus menjadi sekolah yang sehat, bahwa pengolahan sampah perlu dilakukan dari sumbernya dan kantin yang kurang layak harus dirubah menjadi sangat layak.
Kini, tepatnya sejak tahun ajaran 2010 – 2011 ini, sekolah yang berlokasi di Jalan Banjar Sugihan ini memiliki tetenger atau ikon yang akan memudahkan orang lain lebih mudah ingat dengan sekolah ‘pinggiran’ ini. Bukan lagi karena gersangnya sekolah dengan lahan yang luas dan sedikit pepohonan. Bukan lagi karena banyaknya sampah non organik dan organik yang tidak diolah. Melainkan ikon kantin sekolah yang layak dan sehat, yaitu Kantin Apung Lesehan 3R SMP Negeri 26 Surabaya.
Disebut kantin apung karena kantin ini berada di atas kolam ikan di sudut sekolah yang cukup luas, yaitu 25 x 25 meter. Atau bisa disebut juga kantin ini berada di lantai dua, tapi lantai dasarnya adalah kolam ikan. Dengan luas kantin yang sekitar 25 x 25 meter, membuat kantin apung ini cukup bisa melayani seluruh warga sekolah yang mencapai seribu orang saat istirahat sekolah. Plus nyaris tidak ada lagi sampah non organik pembungkus makanan dan minuman yang dihasilkan. Terlebih semua aktivitas makan dilakukan di kantin ini.
Pemikiran tentang kantin apung ini berawal pemikiran bahwa sekolah memerlukan kantin yang tidak sekedar layak, melainkan bisa multifungsi seperti halnya outdoor learning center dan mencerminkan kantin sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup. Sekaligus bisa meminimalkan jenis sampah yang sebelumnya banyak dihasilkan warga sekolah. Plus, membuat sumber sampah menjadi nyaris hanya di satu sudut sekolah, yaitu hanya di kantin sekolah.
Tentang Kantin Apung Lesehan 3R bahkan sudah digunakan untuk beberapa program lingkungan hidup. Program yang melibatkan banyak sekolah di kantin apung ini adalah Mini Children’s Conference on Biodiversity (MCCB) pada pertengahan November 2010. Pada MCCB yang digelar bersama Tunas Hijau ini, perwakilan banyak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah Surabaya Barat ikut serta. Sebulan sebelumnya, menjelang keberangkatan siswa SMP Negeri 26 Surabaya pada International Children’s Conference on the Environment (ICCE) 2010 Nagoya Jepang, Runner up Puteri LH 2009 Nyimas Salsabila, di kolam ikan di bawah kantin apung ini juga telah dilepaskan puluhan ribu bibit ikan. (bram/ron)
Sumber : http://www.tunashijau.org/











0 komentar:
Posting Komentar